Skip to main content

I Hate You

Tentang tiga hal yang ia yakini diam-diam:


Ia sayang Kazuhiko

Reichi Shibasaki ternyata tampan.

Ia terancam jatuh cinta kepadanya.

★

“Apa ini, Araide-chan? Kau punya pengagum rahasia?”

Secarik kertas segera berpindah dari tangan Kazusa Araide, terampas oleh sosok lelaki muda yang tiba-tiba muncul di sampingnya. Gadis itu merengut, melempar pandang ‘kenapa-ganggu-kalau-tidak-diganggu’ pada lelaki bermarga Shibasaki tersebut, menarik napas panjang, “Ngapain sih kau ganggu-ganggu aku? Kurang kerjaan sekali. Kemarikan suratnya! Jangan sok ingin ikut campur urusan orang lain deh! Sana urusi pacar-pacarmu saja!” ujarnya ketus sambil kembali mengambil kertas berisi surat miliknya tersebut, tepat ketika sosok Reichi Shibasaki mengernyit.

“Kau surat-suratan dengan Kazuki Itou?”

“Memangnya kenapa? Tidak boleh?” ia mengangkat alis menantang, melipat suratnya yang kembali ia masukkan ke kantung hakamanya di sisi yang berlawanan dengan tempat Shibasaki, “Mau tahu banget sih…” gumamnya pelan, kembali menyendok nasi karenya. Sosok Shibasaki di sampingnya mengangkat alis, “Apa tadi katamu?”

“Bukan apa-apa,” sahutnya ketus, melirik nampan berisi makanan yang dibawa pemuda itu kini tergeletak di hadapannya, “Ngapain kau makan disini, hah? Kantin luas, tempat duduk masih banyak,” matanya mengedik pada beberapa meja yang masih kosong melompong. Oh well, lima belas menit saja belum lewat sejak bel istirahat siang berbunyi. Ia memperkirakan masih banyak orang yang terjebak di kelasnya.

“Kau keberatan?”

“Jelas! Sana pergi makan dengan gadis-gadis lain! Calon-calon mangsamu kan banyak.”

Reichi mengangkat alis, “Sayangnya, aku maunya disini. Punya hak apa kau melarangku duduk disini, hm?”

Kazusa membuka mulut hendak mendebat balik sebelum kembali terkatup rapat, menghela napas lalu melanjutkan makan sambil cemberut. Melihat perbedaan reaksi yang sangat jarang didapatnya dari gadis Bara di depannya, Reichi (entah untuk yang keberapa kali), mengangkat alis, “Laper banget, ya?”

Diam.

“Araide-chan,”

Lagi-lagi diam.

“Heh, bawel!”

Dan Kazusa Araide tetap tak bergeming, terus melanjutkan makannya seperti Reichi tak ada di depannya. Mendengus, laki-laki itu menatapnya sejenak, lalu mengikuti teladan gadis di depannya : memakan makanannya.

Keheningan yang menyusul diantara mereka (hanya diisi oleh celoteh ramai anak-anak yang mulai memasuki kantin) pecah suara denting sendok dengan garpu yang frekuensinya mulai kelewat sering dari Araide perempuan di depannya. Ia mengangkat alis (lagi), menyadari kecepatan makan Kazusa yang sedikit diatas normal. Makanannya sendiri saja masih setengah saat porsi nasi kare gadis itu tinggal seperlima porsi aslinya.

Menyendok sisa-sisa nasi dan kare terakhir di piringnya, Kazusa segera meraih gelas hijau pekat di sampingnya, tak sadar akan asap mengebul dan fakta bahwa yang tadi dipesannya sebagai minum adalah ocha panas.

“ADAUW!”

Gelas tersebut berdentang keras ketika dijatuhkan oleh pemiliknya, ocha panas di dalamnya tumpah ruah membasahi bagian paha gadis yang kini merintih kesakitan akibat panas yang dirasakannya. Sosok Reichi di depannya melirik kalem, melanjutkan menghabiskan porsi makanannya sendiri yang tinggal sesendok, “Buru-buru sih. Punya mata dipakai makanya,” ucapnya santai sambil berdiri, menghabiskan minumannya sendiri sebelum pergi.

Menggeram kesal, Kazusa ikut bangkit, membereskan sisa makanannya dengan dengus kesal, terburu-buru ingin segera pergi dari hadapan si playboy cap kelinci tersebut. Lagi-lagi, melupakan fakta bahwa di lantai yang tengah diinjaknya tergenang air bekas ochanya yang tumpah dengan potensi menjatuhkan mereka yang kurang hati-hati dalam melangkah.

“Aku tak butuh nasihat—HUWAAAA!”

Kali ini, sosoknya limbung ke depan, nyaris menyentuh lantai dengan bunyi keras yang dijamin akan menyebabkan memar ungu besar di jidatnya—kalau tidak ditahan oleh tangan besar di pinggangnya.

Firasatnya buruk. Sangat buruk.

“Sudah dibilang, pakai matamu yang benar, juga.”

Benar kan. Sialsialsialsial.

“Kau hutang satu lagi padaku, Araide-chan,” Reichi mengucap kalem sambil melepas pegangannya pada pinggang gadis itu sambil melenggang pergi, meninggalkan Kazusa yang bengong sesaat sebelum merasakan wajahnya memanas, setengah mendesah dan menghela napas kesal. Ia menampar-nampar pipinya keras, menggumamkan rentetan omelan pelan sambil mengikuti langkah Reichi keluar dari kantin.

Sebal. Tepat karena alasan inilah Kazusa membenci Reichi Shibasaki.


Based on Kodel's fanfiction, Nobody Knows. Iseng-iseng berhadiah /dor
Ryokubita (c) Kak Ndhez, Kazusa Araide (c) me, Reichi Shibasaki (c) Kodel, dan Kazuki Itou (c) Kal.


Semua yang ada disini adalah fiksi yang fiksi. Tidak ada dalam plot karakter manapun yang tercantum diatas.

Comments

Popular posts from this blog

Dorks #2

Anaknya ngerti. Alhamdu? Hush. Agama siapa itu coba Shin. Shin memperhatikan anak baru yang mengaku namanya Dima--s? Dimasu? Lafal asing yang seumur hidup tak pernah ia dengar maupun ucapkan. Ia mengangkat alis, mengulang nama si anak baru, "Dima--su? Sorry, couldn't really catch that," ucapnya seketika, otomatis pakai bahasa Inggris. Ya kalau pakai bahasa Jepang nanti si anak baru nggak ngerti dong ah. Shin pinter banget sih. Lalu apa katanya? Fans Shin banyak? Itu sih, nggak perlu ada yang kasih tahu pun sejak pertama ia menginjakkan kaki di sekolah itu, ia sudah tahu. Kenapa lagi coba mendadak banyak kakak kelas perempuan merubung di luar jendela kelasnya? "Some of them are yours, I think," ia nyengir lebar, mendekati si Dimasu yang kini berdiri di tengah lapangan sambil mendribel bola, "Wanna play?" Ayo kita suguhi cewek-cewek itu dengan fanservice!

end of summer

Oh, my summer boy, my sweet, sweet love, There will be no more winter for you. jejaknya terlihat di tumpukan salju putih di depan pondok, mengarah ke danau dengan kilau matahari yang terpantul pada permukaan beku. ia terus berjalan, melewati pohon besar, daunnya memutih tertutup salju, beberapa rantingnya rontok dan dahan-dahan kecilnya patah oleh angin kencang semalam. semalam, saat ia benar-benar ingin keluar dari pondoknya yang terkunci rapat. semua sudah selesai. hanya ia yang belum benar-benar bangun, nyanyian merdu sahabatnya masih mengalun di telinga. sweet summer boy. seperti yang selalu mereka ucap untuknya. selalu menunjuk senyum lebarnya, seperti musim panas tak pernah berakhir bagi mereka. sweet, sweet, love. lalu mereka tergelak bertiga, menertawakannya bersama. saling menimpali dan menebak siapa sosok paling tepat untuk dianugerahi sederet kata-kata manis barusan. siapa dan kapan. menurutnya, seharusnya ia sampaikan saja kata-kata tersebut untuk mereka. w...

Awal pada Akhir.

"Why must I always see the ending at the beginning?" --Icarus, White Hinterland Tough luck. Ia menghela napas pasrah, iris hitamnya mengamati figur pemuda yang barusan mengobrol dengannya melenggang pergi, beringsut mendekati teman-temannya. Teman-teman perempuannya . God . Sampai sekarang ia masih tak percaya ia bisa punya perasaan pada orang itu selama enam tahun belakangan. Meski akhir-akhir ini ia bersikeras menyanggah fakta bahwa ia sebenarnya masih punya perasaan yang sama dengan yang ia rasakan enam tahun lalu. Geli, tahu tidak? Terlalu klise, bahkan untuk standar penggila cerita roman macam dirinya. Dan lagi, meski orangtua mereka berdua cukup akrab (yang seharusnya membuat salah satu pihak merasa lebih senang ketika tahu anaknya naksir anak teman si orangtua), ibunya justru sering menyatakan ketidaksukaannya ketika tahu anaknya naksir anak temannya. Cari yang lain saja, katanya. Meski anak lelaki itu terbilang sopan dan baik di mata orangtuanya. Terlalu ce...