Skip to main content

Posts

ずっと。

" Sing me my lullaby ." Maka kau akan bernyanyi untukku. Seperti biasa. Seperti yang selalu kuminta. Sekali-dua kali, kau akan menggeleng, menyunggingkan cengir jahilmu sambil beralasan. Menyuruhku agar lekas tidur saja tanpa harus mendengar nyanyian yang kuinginkan. Lalu aku hanya akan tersenyum kecil, setengah arogan setengah mengejek sambil menuruti apa yang kau katakan, segera meraih bantal lalu berguling memunggungimu. Aku tahu, semua itu tak ada gunanya. Kau tetap akan bernyanyi. Lalu aku akan berbalik mencarimu. Seperti biasa. So when I ask you the same for now, I want you to sing it like you usually do. Aku tak mau ada air mata. Aku tak mau mendengar suaramu bergetar. Aku tak mau melihat wajah lelahmu bersedih hanya karena aku. Bukankah kita berdua sudah tahu? I'll go, and you'll stay for a little while. And then we'll meet again at last . Bukankah segalanya selalu berjalan seperti itu diantara kau dan aku? Selalu aku yang pergi. "I'm ...

Gazes

"AWAAAASSS!" DUKK! Gadis itu memejamkan mata, berjongkok ketakutan sambil melindungi kepalanya dari bahaya tertimpuk bola orange besar bergaris-garis yang terbang dengan kecepatan tinggi dari sebelah kanannya. Untung ia cepat, jadi masih sempat menghindari bolanya. Tuh lihat. Buktinya tadi ada bunyi 'dukk' kencang, kan? Omong-omong, siapa sih yang lempar beginian? "Nggak papa kan?" "Nggak. Cuma nyaris apa-apa," ia menjawab ketus, berusaha bangkit dari posisi jongkoknya. Cih. Mana buku-bukunya yang tadi ia peluk, hah? Malu juga sih ketahuan refleks membuang buku-buku itu, lalu jongkok dan berteriak ketakutan. Yakali ada cewek yang nggak begitu kalau ketemu bola besar. Mana tadi buku-bukunya? "Sorry deh. Nih. Buku-bukunya sampe ikut terbang tadi." Hoshit. Itu..... ITU DONGWOON?! "Athaya Syarif, ya? Sori ya. Kapan-kapan gw traktir deh." "Heh?" "Cari aja Shinichi Tsukishirou, Fakultas Manajemen B...

魂 双子

Kamu tahu nggak, Shin? Apa? Kamu punya kembaran loh. Uh huh. Namanya Shin juga. Tapi orangnya lebih jahat dari kamu. Yeah yeah. Dia juga udah mati. Matinya ketusuk piso di dada kiri loh. Terus? Bukannya kemaren kamu mimpi ketusuk di dada kiri ya? Hubungannya? Kamu mau ketemu, nggak? Shinichi membuka mata, sedikit menyipit menghindari cahaya matahari yang menerobos masuk melalui celah-celah di tirai jendelanya. Ia menegakkan diri, terduduk sambil menggaruk kepalanya, kembali mengingat mimpi anehnya barusan. Hah. Kembaran, katanya. Nonsense. Ia bangkit, mengintip sedikit ke luar jendela untuk melihat cuaca serta prakiraan waktu saat ini. Cerah. Dan terang. Artinya sudah sedikit siang. Dan kemungkinan besar ia sudah membolos beberapa mata kuliah. Dan nyaris melewatkan janji makan siang yang sudah dibuatnya dengan Ahime-sama nya kemarin. Untung ia terbangun. Sambil menguap lebar, Shinichi memasuki kamar mandinya, membersihkan diri...

Last

Ia tak pernah memiliki begitu banyak pikiran terlintas dalam tempo setengah detik dalam kepalanya. Suara teriakan, bisikan lirih yang terdengar samar, serta rasa sakit yang serta-merta memenuhinya perlahan, menariknya dalam kegelapan. Tubuhnya perlahan jatuh tersungkur, berlumur darah kemerahan yang menyebar dengan cepat dari jantungnya, menutupi nyaris seluruh dadanya. Ironis. Ia merasa begitu hidup, begitu bersemangat, tepat pada detik-detik kematiannya. Dan ketika dirasanya dunia mulai menghilang, kesadarannya menipis dan rasa sakitnya semakin tak tertahankan, ia tersenyum. Memorinya baru saja sampai pada dua sosok paling indah yang pernah ditemuinya. Acchannya, dan Ahime-samanya. Bagaimana ia menemukan keduanya memiliki aura yang begitu mirip, dengan senyum manis yang lebih sering dilengkungkan dengan rona jahil di hadapannya. Betapa ia ingin kembali berada di samping keduanya, merangkul keduanya, lalu diomeli karenanya. Betapa ia begitu ingin kembali melihat wajah mereka...

I Hate You

Tentang tiga hal yang ia yakini diam-diam: Ia sayang Kazuhiko Reichi Shibasaki ternyata tampan. Ia terancam jatuh cinta kepadanya. ★ “Apa ini, Araide-chan? Kau punya pengagum rahasia ?” Secarik kertas segera berpindah dari tangan Kazusa Araide, terampas oleh sosok lelaki muda yang tiba-tiba muncul di sampingnya. Gadis itu merengut, melempar pandang ‘kenapa-ganggu-kalau-tidak-diganggu’ pada lelaki bermarga Shibasaki tersebut, menarik napas panjang, “Ngapain sih kau ganggu-ganggu aku? Kurang kerjaan sekali. Kemarikan suratnya! Jangan sok ingin ikut campur urusan orang lain deh! Sana urusi pacar-pacarmu saja!” ujarnya ketus sambil kembali mengambil kertas berisi surat miliknya tersebut, tepat ketika sosok Reichi Shibasaki mengernyit. “Kau surat-suratan dengan Kazuki Itou ?” “Memangnya kenapa? Tidak boleh?” ia mengangkat alis menantang, melipat suratnya yang kembali ia masukkan ke kantung hakamanya di sisi yang berlawanan dengan tempat Shibasaki, “Mau tahu banget sih…” gumamnya p...

Of Guilt and Changes

Traitor Traitor. Pengkhianat. Dirinya tak pernah menyangka akan tiba saat dimana ia merasa pantas disebut seperti itu. Saat hatinya tiba-tiba bergejolak terhadap sosok lain, merasa tergelitik bukan terhadapnya, tapi terhadap yang lain. Setetes air matanya jatuh, membasahi pipinya yang memerah. Di ambang amarah, rasa bersalah, dan —sesuatu yang lain. Yang membuatnya merasa bersalah, hingga air matanya menetes tanpa sadar. Tangannya bergetar di samping badannya, terkunci oleh tangan besar lain milik pemuda di hadapannya. If she was to make an excuse, ia disudutkan. Apa yang kau harapkan dari seorang sahabat lama yang sudah lama tak kau temui? Pertengkaran tiba-tiba yang berujung pada posisinya yang tersudut oleh pemuda tersebut jelas tidak termasuk dalam bayangannya. Apalagi ketika kau tiba-tiba merasakan kembali apa yang pernah kau rasakan. Jauh, jauh sebelum rasa itu menghilang, tertutupi perasaan yang sama terhadap orang yang berbeda. Ia bersalah. Bersalah —karena dibiarkan...

To Promise You This. Always.

Promise She promised. They promised. Ia sudah berjanji, ia takkan pernah menghilang. Berjanji akan selalu menunggunya. Ia sudah berjanji, dan ia masih ingat jelas akan janji itu. Janji mereka yang dikukuhkan oleh seuntai kalung di lehernya, berdenting ketika bersinggungan dengan kalung perak lain yang dikenakannya. She already made her promise, to always love him no matter what . Tangannya meraih bandul perak di kalungnya, secara tak sadar menggenggamnya erat. She remembered the night. Saat keduanya tak sengaja terkunci diluar, dan bertemu satu sama lain--lagi-lagi--di ruang rekreasi. Sementara Fuyuki menyapanya tenang, sosok adik kelasnya terlihat gugup menemukan senpainya sama-sama terperangkap di luar kekkai. They ended up with the talk. Keduanya berpelukan erat, seakan malam itu adalah malam terakhir Fuyuki bersama Gikyo. Seakan esok nanti, sosoknya sudah menghilang, dinyatakan lulus lalu berpisah dengan Gikyonya. Memang hanya akan berselang setahun sampai Gikyo pun lulus dar...